Saat Pelaku adalah Orang Terdekat: Mengapa Anak Sulit Bercerita?

  • Senin, 6 Juli 2026 - 15:11:04 WIB
  • Administrator

Oleh: Aghnis Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

 

 

Kekerasan seksual pada anak bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam dan kompleks. Dalam banyak kasus, anak memilih memendam pengalaman tersebut selama bertahun-tahun karena pelaku merupakan orang terdekat, seperti anggota keluarga, kerabat, guru, atau orang yang dipercaya. Kondisi ini membuat anak berada dalam konflik batin yang berat: di satu sisi mereka mengalami ketakutan dan penderitaan, tetapi di sisi lain mereka merasa tidak aman untuk bercerita kepada orang tua atau orang dewasa lain.

Penelitian menunjukkan bahwa delayed disclosure atau keterlambatan pengungkapan merupakan fenomena yang sangat umum pada korban kekerasan seksual anak. Banyak anak tidak langsung mengungkapkan pengalaman traumatisnya karena takut tidak dipercaya, takut dimarahi, takut menghancurkan keluarga, atau takut pada ancaman pelaku. Ketika pelaku adalah orang terdekat, konflik emosional menjadi lebih berat karena anak sering memiliki keterikatan emosional dengan pelaku. Anak dapat mengalami kebingungan antara rasa takut, rasa sayang, rasa bersalah, dan kebutuhan untuk tetap diterima dalam keluarga.

Secara psikologis, anak yang memendam kekerasan seksual dalam waktu lama sering menunjukkan gejala trauma kompleks. Trauma tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau cerita verbal. Banyak anak justru tampak diam, menarik diri, sulit percaya kepada orang lain, mudah cemas, atau mengalami perubahan perilaku. Sebagian anak menjadi lebih agresif, sulit mengendalikan emosi, mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, penurunan konsentrasi, hingga kesulitan membangun relasi interpersonal. Dalam beberapa kasus, anak mengalami disosiasi, yaitu kondisi ketika emosi dan ingatan traumatis “dipisahkan” dari kesadaran sebagai mekanisme bertahan hidup.

Anak korban kekerasan seksual juga sering mengalami self-blame atau menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa bahwa apa yang terjadi adalah kesalahan mereka, terutama jika pelaku melakukan manipulasi psikologis, ancaman, atau grooming. Pelaku kerap membuat anak merasa bersalah apabila bercerita kepada orang lain. Akibatnya, anak belajar untuk menekan emosi dan menyimpan penderitaan sendirian. Penelitian menunjukkan bahwa korban yang menahan pengungkapan pengalaman kekerasan seksual memiliki tingkat gejala trauma yang lebih tinggi dibanding korban yang memperoleh ruang aman untuk bercerita.

Kondisi psikologis semakin kompleks ketika anak merasa orang tua tidak akan percaya atau tidak mampu melindunginya. Pada beberapa anak, muncul ketakutan bahwa pengungkapan akan merusak keluarga atau menyebabkan konflik besar di rumah. Penelitian mengenai disclosure anak korban kekerasan seksual menemukan bahwa ketakutan terhadap konsekuensi sosial dan keluarga merupakan salah satu alasan utama anak memilih diam. Anak akhirnya hidup dalam keadaan hypervigilance, yaitu selalu waspada, cemas, dan merasa dunia tidak aman.

Dalam jangka panjang, trauma yang dipendam dapat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kesehatan mental anak hingga dewasa. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara kekerasan seksual masa kanak-kanak dengan depresi, gangguan kecemasan, PTSD, kesulitan regulasi emosi, rendahnya harga diri, self-harm, hingga kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Bahkan, keterlambatan pengungkapan dapat memperburuk dampak psikologis karena anak tidak segera memperoleh perlindungan dan dukungan emosional yang dibutuhkan.

Namun demikian, proses pengungkapan memiliki makna yang sangat penting dalam pemulihan psikologis anak. Ketika anak akhirnya menemukan ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan respons yang suportif, validatif, dan tidak menyalahkan, hal tersebut dapat menjadi awal proses healing. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang memperoleh dukungan sosial dan respons positif setelah disclosure memiliki outcome psikologis yang lebih baik dibanding anak yang diabaikan atau disalahkan.

Oleh karena itu, pendampingan terhadap anak korban kekerasan seksual memerlukan pendekatan trauma-informed, yaitu pendekatan yang memahami bahwa perilaku anak sering kali merupakan respons terhadap trauma. Anak tidak membutuhkan interogasi yang menekan, melainkan membutuhkan rasa aman, penerimaan, validasi emosi, dan kehadiran orang dewasa yang mampu mendengar tanpa menghakimi. Ketika seorang anak akhirnya berani bercerita setelah sekian lama diam, sering kali itu bukan tanda bahwa traumanya baru terjadi, tetapi tanda bahwa untuk pertama kalinya ia merasa cukup aman untuk didengar.

 

Referensi:

Alaggia, R. (2004). Many Ways of Telling: Expanding Conceptualizations of Child Sexual Abuse Disclosure. Child Abuse & Neglect, 28(11), 1213–1227.

Collin-Vézina, D., De La Sablonnière-Griffin, M., Palmer, A. M., & Milne, L. (2015). A Preliminary Mapping of Individual, Relational, and Social Factors that Impede Disclosure of Childhood Sexual Abuse. Child Abuse & Neglect, 43, 123–134.

Easton, S. D. (2013). Disclosure of Child Sexual Abuse Among Adult Male Survivors. Clinical Social Work Journal, 41(4), 344–355.

Faller, K. C. (2007). Interviewing Children about Sexual Abuse: Controversies and Best Practice. New York: Oxford University Press.

Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery. New York: Basic Books.

Putnam, F. W. (2003). Ten-Year Research Update Review: Child Sexual Abuse. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 42(3), 269–278.

Summit, R. C. (1983). The Child Sexual Abuse Accommodation Syndrome. Child Abuse & Neglect, 7(2), 177–193.

Ullman, S. E. (2003). Social Reactions to Child Sexual Abuse Disclosures: A Critical Review. Journal of Child Sexual Abuse, 12(1), 89–121.

Widom, C. S. (1999). Posttraumatic Stress Disorder in Abused and Neglected Children Grown Up. American Journal of Psychiatry, 156(8), 1223–1229.

World Health Organization. (2003). Guidelines for Medico-Legal Care for Victims of Sexual Violence. Geneva: WHO.