Oleh: Aghnis Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Pengasuhan anak merupakan proses yang tidak hanya menuntut kehangatan emosional, tetapi juga kemampuan menetapkan batasan yang jelas. Dalam praktik sehari-hari, banyak orang tua mengalami kebingungan dalam membedakan antara sikap tegas dan tindakan yang sebenarnya sudah masuk dalam kategori kekerasan. Tidak jarang, perilaku membentak, mengancam, atau bahkan memukul dianggap sebagai bagian dari disiplin. Padahal, dalam perspektif psikologi, kedua pendekatan ini memiliki landasan, tujuan, serta dampak yang sangat berbeda terhadap perkembangan anak.
Dalam kajian psikologi perkembangan, disiplin dipahami sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar pemberian hukuman. Kerangka teoritis yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah teori parenting styles yang dikembangkan oleh Diana Baumrind. Ia menjelaskan bahwa pola pengasuhan dapat dilihat dari dua dimensi utama, yaitu kehangatan (responsiveness) dan kontrol (demandingness). Kombinasi keduanya menghasilkan pola asuh authoritative (tegas namun hangat) dan authoritarian (keras tanpa kehangatan), yang dalam praktik sering kali disalahartikan sebagai perbedaan antara ketegasan dan kekerasan.
Pengasuhan yang tegas, atau authoritative parenting, ditandai oleh adanya aturan yang konsisten, komunikasi yang terbuka, serta penjelasan rasional terhadap perilaku anak. Orang tua tetap memiliki kontrol, tetapi tidak mengabaikan kebutuhan emosional anak. Dalam konteks ini, anak tidak hanya dituntut untuk patuh, tetapi juga diajak memahami alasan di balik aturan yang diberikan. Hal ini berbeda secara mendasar dengan pengasuhan yang mengandung kekerasan (authoritarian parenting), di mana kontrol dilakukan secara kaku, sering kali melalui ancaman, hukuman, atau tekanan emosional, tanpa ruang dialog.
Sejumlah penelitian empiris memperkuat perbedaan dampak dari kedua pendekatan ini. Studi longitudinal yang dilakukan oleh Laurence Steinberg menunjukkan bahwa remaja yang dibesarkan dengan pola asuh authoritative memiliki tingkat kompetensi sosial yang lebih tinggi, kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, serta prestasi akademik yang lebih optimal dibandingkan dengan remaja yang dibesarkan dengan pola asuh authoritarian. Temuan ini menunjukkan bahwa ketegasan yang disertai kehangatan justru membantu anak mengembangkan kontrol diri secara internal, bukan sekadar kepatuhan eksternal.
Sebaliknya, penelitian meta-analisis oleh Elizabeth Gershoff menemukan bahwa penggunaan hukuman fisik dalam pengasuhan berkorelasi dengan peningkatan perilaku agresif pada anak, penurunan kualitas hubungan orang tua-anak, serta meningkatnya risiko masalah kesehatan mental. Anak yang sering menerima kekerasan cenderung belajar bahwa konflik diselesaikan melalui kekuatan, sehingga perilaku agresif tersebut dapat terbawa ke relasi sosial di luar rumah.
Lebih jauh, studi oleh Joan E. Grusec menunjukkan bahwa anak lebih mungkin menginternalisasi nilai moral ketika orang tua menggunakan pendekatan yang menjelaskan alasan di balik aturan (inductive discipline), dibandingkan dengan pendekatan yang berbasis hukuman. Artinya, anak yang dididik dengan ketegasan yang komunikatif akan lebih memahami “mengapa suatu perilaku salah”, bukan hanya takut terhadap konsekuensi.
Perbedaan ini dapat dilihat dengan jelas melalui contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seorang anak memukul temannya karena marah. Dalam pendekatan yang tegas, orang tua akan menghentikan perilaku tersebut dengan segera, kemudian menjelaskan bahwa memukul bukan cara yang dapat diterima untuk mengekspresikan emosi. Orang tua mungkin mengatakan, “Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul. Kalau marah, kamu bisa bicara atau menjauh dulu.” Selain itu, anak juga dapat diberikan konsekuensi logis, seperti meminta maaf atau kehilangan waktu bermain sementara.
Sebaliknya, dalam pendekatan yang mengandung kekerasan, respons yang muncul bisa berupa membentak atau memukul balik anak dengan tujuan “memberi pelajaran”. Dalam situasi ini, anak memang mungkin berhenti memukul, tetapi bukan karena memahami kesalahan, melainkan karena takut. Ironisnya, anak justru mendapatkan model bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah.
Contoh lain dapat dilihat dalam penggunaan gadget. Ketika anak menolak berhenti bermain, orang tua yang menerapkan ketegasan akan mengingatkan tentang aturan yang telah disepakati sebelumnya dan memberikan konsekuensi yang konsisten jika aturan dilanggar. Proses ini dilakukan dengan nada yang tenang namun tegas. Sebaliknya, pendekatan kekerasan mungkin muncul dalam bentuk merampas gadget secara tiba-tiba sambil membentak atau mempermalukan anak. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat merusak hubungan emosional dan menimbulkan resistensi pada anak.
Dari perspektif neuropsikologi, pengalaman pengasuhan yang keras dan penuh ancaman dapat memengaruhi perkembangan otak anak, khususnya pada sistem yang mengatur respons stres. Anak yang sering berada dalam situasi yang menakutkan cenderung mengalami aktivasi berlebihan pada sistem fight-or-flight, sehingga lebih sulit mengembangkan kemampuan berpikir reflektif dan pengendalian diri. Sebaliknya, lingkungan yang hangat namun terstruktur membantu perkembangan fungsi eksekutif, seperti kemampuan mengambil keputusan dan mengelola emosi.
Dalam praktik klinis, sering ditemukan bahwa orang tua yang menggunakan kekerasan tidak selalu memiliki niat buruk, melainkan sedang berada dalam kondisi stres atau mengulang pola pengasuhan yang mereka alami sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara ketegasan dan kekerasan tidak hanya terletak pada teknik pengasuhan, tetapi juga pada kemampuan regulasi emosi orang tua. Ketika orang tua mampu mengelola emosi, mereka lebih mungkin merespons perilaku anak secara reflektif. Sebaliknya, ketika emosi tidak terkendali, respons yang muncul cenderung impulsif dan berpotensi menjadi kekerasan.
Dengan demikian, menjadi tegas dalam pengasuhan bukan berarti menjadi keras. Ketegasan justru menuntut kemampuan yang lebih kompleks, yaitu menjaga konsistensi aturan sekaligus mempertahankan kehangatan relasi. Sementara itu, kekerasan sering kali merupakan bentuk reaksi spontan yang tidak didasarkan pada tujuan perkembangan anak. Temuan-temuan dalam psikologi parenting secara konsisten menunjukkan bahwa anak berkembang secara optimal dalam lingkungan yang memberikan struktur yang jelas sekaligus rasa aman secara emosional.
Kesimpulannya, perbedaan antara mendidik dengan tegas dan dengan kekerasan tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan orang tua, tetapi juga pada bagaimana dan dalam kondisi emosional apa tindakan tersebut dilakukan. Ketegasan yang disertai empati membantu anak belajar memahami dirinya dan lingkungannya, sedangkan kekerasan hanya menghasilkan kepatuhan semu yang berisiko menimbulkan dampak psikologis jangka panjang.
Daftar Pustaka
Baumrind, D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool behavior.
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use.
Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Socialization in the context of the family.
Steinberg, L. (2001). We know som e things: Parent–adolescent relationships in retrospect and prospect.
Gershoff, E. T. (2002). Corporal punishment by parents and associated child behaviors and experiences.
Grusec, J. E., & Goodnow, J. J. (1994). Impact of parental discipline methods on the child’s internalization of values.
Gottman, J. M. (1997). Raising an emotionally intelligent child.
American Academy of Pediatrics. (2018). Effective discipline to raise healthy children.