
Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiah (PDNA) Kota Surabaya menggelar workshop pelatihan kreator konten dan story telling untuk kader-kader Nasyiah di Surabaya. Utusan kader Nasyiah yang ditugaskan merupakan admin-admin pengelola media sosial Nasyiah dari berbagai cabang di Surabaya.
Acarayang digelar di Gedung At Taawun 20 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) tersebut dihadiri oleh 50 peserta dari berbagai kalangan usia.
Talitha Shabrina El Jihan selaku Ketua PDNA Surabaya mengatakan kemampuan menyampaikan informasi dengan konten-konten menarik sangat penting dilakukan di zaman sekarang yang semuanya serba digital dan cepat.
“Nasyiah sudah seharusnya menjadi ruang informasi digital yang menarik bagi semua kalangan, terutama dalam menyuarakan isu-isu perempuan dan anak,” ujar Jihan dalam keterangan pers, Senin (17/2/2025).
Menurut Jihan, representasi terhadap perempuan secara umumnya, lebih menonjolkan dari sisi biologis tanpa melihat perempuan secara utuh. Hal inilah yang lantas menjadikan Organisasi Nasyiatul Aisyiah (NA) yang merupakan organisasi kaum perempuan diharuskan untuk membangun isu positif di media massa terutama media online terkait isu perempuan dan anak.
“Harapannya setelah workshop ini selesai, kader-kader Nasyiah memiliki perspektif baru dalam merespons isu-isu yang terjadi juga lebih tanggap dalam mensyiarkan dakwah lewat digital,” tuturnya.
Dua pemateri dihadirkan yaitu Dwi Putri Ayu Wardhani (Social Media Specialist) yang juga sebagai RBC Institute Malik Fadjar. Selain itu, hadir pula Videographer & Journalist, Adhek Dharma Santoso.
Putri menyampaikan materi tentang Rahasia Storytelling Medsos, mulai dari teknik storytelling, kunci storytelling, emotional storytelling, driven storytelling, interactive storytelling hingga tips pengambilan video untuk storytelling dan kemudian dilanjutkan dengan praktik.
Putri yang selama ini juga berfokus pada konten isu-isu perempuan, memberikan contoh kepada peserta dan praktik menulis storytelling secara langsung.
Menurutnya, organisasi perempuan seperti NA harus sanggup membangun isu yang positif dengan melakukan counter terhadap isu negatif, terutama kaitannya dengan perempuan dan anak.
“Organisasi ini selayaknya harus bekerja keras mencerahkan publik dalam sisi perempuan dan anak melalui media massa. Ini karena upaya untuk menumbuhkan kepedulian publik hanya dapat digunakan melalui teknologi komunikasi massa,” pungkasnya. (idc/s)